Inflasi Kota Sukabumi

Inflasi sebesar 0.48 persen terjadi pada bulan Juli 2014

Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Juli berada di posisi 113,73 mengalami peningkatan dari 113,19 di Bulan Juni 2014, sehingga terjadi inflasi sebesar 0,48 persen di bulan ini. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi dialami oleh enam kelompok pengeluaran di Kota Sukabumi, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,98 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,56 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,38 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,24 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,12 persen serta kelompok kesehatan 0,02 persen. Deflasi hanya terjadi pada kelompok sandang, yaitu sebesar 0,07 persen.
Perubahan harga komoditas di Juli 2014 terjadi pada 114 jenis barang/jasa yang menjadi bagian dari paket komoditas pantauan survei Harga Konsumen (HK) di Kota Sukabumi, dengan rincian 91 komoditas memberikan andil inflasi dan 23 komoditas lainnya menyumbangkan andil deflasi. Bulan Juli bertepatan dengan jatuhnya bulan Ramadhan 1435 H & Hari Lebaran, dimana pada umumnya masyarakat Indonesia memiliki tradisi khusus dalam merayakan kedua peristiwa tersebut yang berdampak pada perubahan pola konsumsi. Meningkatnya permintaan konsumen akan bahan pangan sumber protein hewani seperti daging ayam dan daging sapi yang berdampak pada signifikannya sumbangan inflasi dari kedua komoditas tersebut. Hal ini selalu terjadi setiap bulan Ramadhan dan menjelang hari Lebaran. Selain itu beras, bayam, bawang merah, tahu dan tomat merupakan beberapa komoditas dari kelompok bahan makanan yang juga menyumbangkan andil inflasi di Juli 2014. Penurunan harga dibandingkan keadaan bulan sebelumnya sehingga menyebabkan terjadinya andil deflasi dialami oleh komoditas yang tergabung dalam kelompok bahan makanan antara lain dialami oleh, cabe rawit, beberapa jenis ikan diawetkan/diasinkan (selar, cumi & gabus), jengkol dan minyak goreng. Komoditas rokok, gado-gado, kembang gula, teh dan biskuit merupakan penyumbang andil inflasi dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau. Sementara sirop dan gula pasir menjadi penyumbang andil deflasi dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau. Dampak dari Kebijakan pemerintah untuk menaikan tarif Listrik di bulan Juni 2014 masih dirasakan hingga bulan ini sehingga tercatat sumbangan inflasinya pada IHK Kota Sukabumi sebesar 0,03 persen terhadap inflasi umum bulan Juli 2014. Selain tarif listrik, sumbangan inflasi dari kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar juga diberikan oleh tarif sewa & kontrak rumah, yang merupakan komoditas dengan sumbangan andil iinflasi tertinggi di Juli 2014. Penurunan harga emas perhiasan di Juli 2014 sangat mempengaruhi IHK Kelompok sandang sehingga mengalami deflasi di bulan ini. Naiknya tarif masuk kolam renang yang menjadi responden survei Harga Konsumen memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga. Tradisi berkunjung ke handai taulan pada perayaan Lebaran membawa pengaruh pada tingginya permintaan akan layanan jasa transportasi, khususnya angkutan antar kota, sehingga selalu terjadi kenaikan tarif angkutan antar kota pada beberapa hari sebelum dan sesudah Hari Lebaran. Andil inflasi dari kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan juga disumbangkan oleh bahan bakar minyak non subsidi dan jasa perbaikan/perawatan kendaraan.
Inflasi gabungan 7 kota IHK di Provinsi Jawa Barat bulan Juli 2014 sebesar 0,86 persen. Inflasi tertinggi terjadi pada Kota Bekasi 1,05 persen, kemudian Kota Depok 0,99 persen, Kota Tasikmalaya 0,86 persen, Kota Bandung 0,74 persen, Kota Bogor 0,69 persen, Kota Cirebon 0,53 persen dan terakhir Kota Sukabumi 0,48 persen.
Inflasi Nasional Bulan Juli 2014 sebesar 0,93 persen, secara serentak seluruh kota/kab yang menjadi pantauan survei Harga Konsumen mengalami inflasi. Inflasi tertinggi dialami oleh Kota Bengkulu sebesar 2,92 persen dan terendah di Kota Maumere 0,13 persen.

  • Pendataan Potensi Desa (PODES) 2014

    Saat ini BPS sedang melakukan pendataan Potensi Desa (1-30 April 2014). Pendataan PODES dilakukan tiga tahun sekali mengawali tiga macam sensus yang dilakukan oleh BPS, yakni Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi.

    Pendataan PODES bertujuan menghasilkan data spesifik bagi keperluan pembangunan wilayah dan memberikan indikasi awal tentang potensi wilayah, ketersediaan infrastruktur/fasilitas, serta kondisi sosial ekonomi dan budaya di setiap desa/kelurahan.

    Pelayanan Data Berbasis PNBP

    Data yang dihasilkan BPS, baik yang bersumber dari sensus maupun survei, banyak yang menjadi rujukan di berbagai lapisan masyarakat sebagai dasar pengambil kebijakan atau analisis terhadap suatu fenomena. BPS pun terus berupaya untuk memberikan pelayanan yang easier, better, faster, dan cheaper kepada para pengguna data.

    Survei Biaya Hidup (SBH) 2012

    Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu data strategis Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperlukan sebagai dasar penentuan kebijakan Pemerintah. Persentase perubahan IHK atau lebih dikenal dengan istilah tingkat inflasi/deflasi merupakan indicator ekonomi penting yang kualitas datanya perlu ditingkatkan dari waktu ke waktu.

    TNP2K Menerima PPLS 2011 BPS sebagai Basis Data Terpadu Untuk Program Perlindungan Sosial

    JAKARTA, TNP2K - Bertempat di Istana Wakil Presiden, Jumat pagi (20/1/2012), telah dilakukan penyerahan hasil akhir Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011 sebagai Basis Data Terpadu Program Perlindungan Sosial antara pelaksana tugas Kepala BPS, Suryamin (sekarang telah menjadi Kepala BPS), kepada Sekretaris Eksekutif Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Bambang Widianto.

    Halaman

    Berlangganan BPS Kota Sukabumi RSS